Showing posts with label Elektronika. Show all posts
Showing posts with label Elektronika. Show all posts

Tuesday, December 21, 2010

menghitung resistor untuk LED



LED memang device kecil yg sepele, tapi kadang kita pusing saat mau nentuin resistor yang akan di seri ke LED untuk membatasi arus yang masuk. Karena bingung akhirnya maen comot aja nilai R nya, dan hasilnya nyala LED gak maksimal klo R nya ke besaren. Ato LED nya gampang meleduk klo R nya terlalu kecil.

Rumus menghitung nilai R untuk LED
R= V / I
Weheee.... sederhana kan... itu kan rumus dasar tegangan.
Nilai tegangan(V) adalah nilai tegangan sumber(Vs) dikurangi nilai tegangan LED(VL) (nilai tegangan LED diasumsikan 2,2 volt).
Arus yg boleh melewati LED kira-kira 20mA (0,02 A)
Jika tegangan sumber 12V besar VL nya adalah: 12-2,2 = 9.8 volt
R=9.8/ 0.02 = 490 ohm
Di pasaran sudah nyari R 490 ohm jadi kita nyari yang di atasnya dikit 510 ohm.
Setiap alat yang di aliri listrik pasti menimbulkan panas, begitu juga R yg kita gunakan ini. Semakin besar Daya maka panas yg dihasilkan juga semakin tinggi. So... kita harus memilih R dengan kapasitas daya yang sesuai agar R nya gak meleduk.. He3.....
P= V*I
So.... P= 9.8*0.02 = 0.196 watt
jadi minimal kita harus memilih LED yang 1/4 Watt (0.25 watt)



LED 5 mm warna Red Clear memiliki Vf (forward Voltage) sebesar 2 Volt dan Forward current hanya 5mA. Jika sumber tegangan kita sebesar 12 Volt (misal dari adaptor 12VDC) maka
R = V/I
R = (12 - 2) / 0.005
R = 10 / 0.005
R = 2000 ohm -> 2KOhm
Resistor tidak hanya memiliki nilai hambatan tetapi juga memiliki nilai daya yang menentukan kemampuan resistor tersebut menangani daya maksimum yang diberikan padanya. Untuk menghitung daya yang jatuh pada resistor dapat menggunakan rumus P = I x I x R.
P = I x I x R
P = 0.005 x 0.005 x 2000
P = 0.05 Watt -> 1/20 Watt.
Kita dapat menggunakan resistor dengan nilai 2KOhm daya di atas 1/20 Watt. Di pasaran adanya resistor 1/4 Watt ke atas, dari sini dapat disimpulkan bahwa resistor 1/4 Watt sudah sangat mencukupi untuk kebutuhan ini. Semakin kecil daya yang jatuh pada resistor maka semakin efisien rangkaian LED ini karena daya yang jatuh pada resistor diubah menjadi panas (hal yang tak berguna).



Dengan rangkaian di samping, tegangan Vf LED dapat dijumlahkan menjadi Vf_total = 2 + 2 + 2 + 2 + 2 = 10 Volt. Dengan demikian perhitungan nilai resistor menjadi berikut
R = V/I
R = (12 - 10) / 0.005
R = 2 / 0.005
R = 400 ohm -> di pasaran adanya 390 ohm, jadi kita gunakan resistor 390 ohm.
Perhitungan dayanya:
P = I x I x R
P = 0.005 x 0.005 x 390
P = 0.00975 Watt -> kurang dari 1/100 Watt, pakai resistor 1/4 Watt sudah lebih dari cukup.

rumus P ( watt ) yang dipakai pada kasus diatas di ambil dari Hukum Joule's
yaitu :
P = E * I atau P = V * I
P = I2* R atau P = I * I * R
P = E2/R

Wednesday, December 15, 2010

cara menguji Transistor



Transistor adalah jenis komponen aktif yang terbuat dari bahan semi konduktor. Pada umumnya transistor digunakan sebagai penguat dalam rangkaian elektronika, yaitu memperkuat signal input (masukan) sehingga didapatkan signal yang lebih kuat pada output (keluaran)-nya.

Transistor memiliki 3 kaki yaitu Basis (B), Emitor (E) dan Colector (C).
Basis adalah pengendali (control) arus yang akan mengalir melalui Colector dan Emitor. Makin besar arus yang mengalir antara Basis dan Emitor (arus basis atau iB) maka makin besar pula arus yang mengalir antara Colector dan Emitor (arus colector atau iC), hingga pada harga tertentu arus antara Emitor dan Colector mencapai maksimal (transistor pada kondisi jenuh). Pada kondisi jenuh tersebut seolah-olah Emitor dan Colector menjadi seperti saklar yang tertutup, sehingga transistor juga bisa digunakan sebagai saklar elektronik.

Cara menentukan kaki basis emitor dan kolektor dengan AVO analog adalah :
  1. Posisikan saklar pengukuran pada posisi ohm meter dengan skala sedang (x 10).

  2. Pastikan transistor yg akan kita 'introgasi' dalam kondisi baik!

  3. Hubungkan pencolok AVO meter ke sembarang kaki transistor sampai ada simpangan jarum.
    Setelah ada simpangan jarum, pindahkan salah satu pencolok AVO meter ke kaki yang lainnya, jika ada simpangan jarum juga maka kaki pada pencolok yang tidak dipindahkan adalah kaki basis dari transistor tersebut.

  4. Agar lebih mudah bisa lihat tabel di bawah ini.
    1. Basis ke Kolektor = jarum bergerak
    2. Basis ke Emitor = jarum bergerak
    3. Emitor ke Kolektor = jarum tidak bergerak

    4. Lihat pencolok yang tidak dipindahkan apakah + atau - ,
      jika + maka jenis transistor tersebut adalah PNP dan sebaliknya jika - maka jenis transistor tersebut adalah NPN.

Setelah menemukan kaki basis dan jenis transistornya, langkah selanjutnya adalah menentukan kaki emitor dan kolektor.
Ini agak sulit karena tidak akan ada pergerakan jarum jika kita gunakan AVO meter pada kaki emitor dan kolektor, sementara pergerakan jarum antara basis-emitor dan basis-kolektor nyaris tanpa perbedaan.

Untuk transistor yang berbentuk pipih dan setengah tabung :
  • jika kaki basisnya berada di tepi maka kaki yang berada di tengah biasanya adalah emitor
  • dan kaki yang berada di tepi yang lainnya adalah kolektor




link transistor lainnya